Data Anda sudah ada di sana
Faktur pajak, bukti potong, dan mutasi rekening masuk ke Coretax sebelum SPT Anda dikirim. Laporan Anda jadi bahan pembanding, bukan informasi baru.
Angka Anda sudah ada di tangan DJP. Yang mereka periksa bukan lagi kelengkapan laporan Anda, tapi apakah laporan itu cocok dengan data yang sudah mereka punya.
Faktur pajak, bukti potong, dan mutasi rekening masuk ke Coretax sebelum SPT Anda dikirim. Laporan Anda jadi bahan pembanding, bukan informasi baru.
Dulu selisih baru ketahuan saat ada pemeriksaan lapangan. Sekarang cukup dibandingkan di layar kantor pajak.
Selisih yang baru ketahuan sebelas bulan kemudian berarti mencari dokumen yang orangnya sudah lupa dan berkasnya sudah pindah gudang.
Anda butuh pembukuan yang tiap hari tahu berapa bedanya dengan data DJP, dan bisa menjelaskan setiap rupiah beda itu pakai dokumen dan pasalnya. Itu yang KLOPT kerjakan.
Setiap perusahaan sebenarnya punya dua versi laba: versi akuntansi dan versi pajak. Keduanya memang beda, dan seharusnya beda. Pertanyaannya cuma satu: bedanya diurus bagaimana?
Satu faktur penjualan yang dicatat benar langsung menghasilkan jurnal, baris e-Faktur, baris pencocokan pajak, umur piutang, dan kertas kerja pemeriksaan. Tanpa satu angka pun diketik ulang.
Pilih pelanggan, isi barangnya, tentukan tanggal. Status PKP dan termin pembayaran sudah tersimpan di data pelanggan, jadi staf Anda tidak perlu ditanya soal pajak sama sekali.
Debit dan kredit disusun sistem dari isi transaksinya, dijamin seimbang, dan langsung masuk ke laporan akuntansi maupun laporan pajak.
Baris e-Faktur bulan ini, PPN keluaran, potensi PPh yang harus dipotong, dan posisi kurang atau lebih bayar bulan ini. Semua dihitung, bukan diketik.
Empat pemeriksaan yang sama dengan yang dipakai pemeriksa pajak berjalan otomatis. Tiap selisih dicarikan penjelasannya, dan yang tidak ketemu penjelasannya ditandai jelas-jelas.
Waktu menyusun SPT Tahunan atau waktu SP2DK datang, berkasnya sudah lengkap. Setiap angka bisa ditelusuri sampai ke dokumen aslinya.
Empat pemeriksaan yang sama dengan yang dipakai pemeriksa pajak berjalan otomatis tiap tutup bulan. Selisihnya dicarikan penjelasan di data Anda sendiri. Yang tidak ketemu penjelasannya ditulis apa adanya sebagai belum dijelaskan.
Rp6.500.000 belum ada penjelasannya. Sistem tidak menebak-nebak dan tidak memaksa angkanya cocok. Pertanyaannya dimunculkan sekarang, sebelas bulan sebelum orang lain yang menanyakannya.
Ada dua tanda yang dipakai di seluruh aplikasi. Tinta untuk angka yang sudah disetujui manusia. Pensil untuk apa pun yang berasal dari AI: warnanya abu, garisnya putus-putus, dan selalu bisa dihapus.
Hasil AI tidak pernah langsung masuk buku besar. Ia muncul sebagai usulan yang menunggu disetujui, dan kalau ditolak tidak meninggalkan jejak apa pun.
Rujukan pasal bukan kalimat yang ditulis AI, tapi diambil dari daftar aturan di sistem. Karena itu AI tidak mungkin menyebut pasal yang sebenarnya tidak ada.
Larangan ini dipasang di struktur kodenya, bukan cuma ditulis di aturan internal. Kalau ada yang mencoba memanggil AI dari perhitungan pajak, programnya gagal dibangun.
“Selisih PPN masukan Rp6.500.000 mirip pola tiga faktur vendor yang tanggal fakturnya beda bulan dengan tanggal pencatatannya. Kemungkinan: BILL-2026-0341, BILL-2026-0352, BILL-2026-0377.”
Aturan yang cuma dijaga oleh kode aplikasi pasti kebobolan suatu hari. Karena itu aturan pembukuan di KLOPT dijaga oleh database. Kode yang salah ditolak, bukan dimaafkan.
Keamanan & dataTidak ada tombol hapus atau edit. Koreksi dilakukan lewat jurnal pembalik yang tersambung ke jurnal aslinya.
Kalau ada satu angka diubah di tengah tahun, kuncinya putus dan langsung ketahuan saat dicek.
Bukan dipisah oleh kode aplikasi. Satu baris kode yang salah tidak bisa membocorkan data perusahaan lain.
Termasuk lokasi cadangan dan lokasi pemulihan kalau terjadi bencana.
Software akuntansi biasa memang bagus untuk mencatat. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya: kenapa omzet di SPT Tahunan Anda beda dengan total DPP faktur pajak Anda setahun?
Di sana, mencocokkan angka itu tetap kerjaan Excel bulan Maret. Di KLOPT, pencocokan itu jalan sendiri tiap bulan, dari data yang sama.
Tidak. AI di KLOPT dilarang menyentuh perhitungan pajak, dan larangan itu dipasang di struktur kodenya. Kalau ada yang mencoba, programnya gagal dibangun.
AI mengerjakan yang memang cocok untuk mesin: membaca faktur PDF, menebak akun, menandai transaksi janggal. Hasilnya selalu berupa usulan. Anda bisa menolaknya, dan penolakan itu tidak meninggalkan apa pun di buku besar.
Anda, seperti biasa. Justru karena itu sistemnya dibuat begini: setiap angka pajak diambil dari daftar aturan yang punya tanggal berlaku. Transaksi 15 Maret dihitung pakai aturan yang berlaku 15 Maret, bukan aturan hari ini.
Setiap penilaian juga diberi label apa adanya: pasti, tergantung, atau abu-abu. Sistem yang mengaku semuanya pasti akan kehilangan kepercayaan Anda begitu ada satu yang meleset.
Satu perusahaan dengan riwayat setahun biasanya butuh dua sampai tiga minggu. Minggu pertama impor data pelanggan, vendor, barang, dan saldo awal. Minggu kedua jalan berdampingan dengan pembukuan lama. Lalu pindah.
Sebaiknya jangan pindah di tengah masa pajak. Titik pindah paling bersih adalah awal bulan. Kalau tanggalnya tinggal beberapa hari lagi, lebih baik tunggu bulan berikutnya.
Di Indonesia. Pemisahan data antar perusahaan dijaga oleh database, bukan oleh kode aplikasi. Artinya, satu baris kode yang salah tulis tidak bisa membocorkan data perusahaan lain, karena databasenya sendiri yang menolak.
Penjelasan lengkapnya ada di halaman keamanan.
Ada pertanyaan lain? Kirim ke kami — dijawab orang, bukan bot.
Empat puluh menit bareng tim kami. Kami siapkan data contoh dari industri Anda, jalankan pemeriksaan empat bulan terakhir, lalu tunjukkan selisih mana yang paling mungkin ditanyakan duluan.
Tanpa kartu kredit. Tanpa ikatan. Data contohnya kami yang siapkan.